~salam pembuka bicara~

~salam pembuka bicara~

Thursday, February 25, 2010

~Salam Maulidur Rasul 1431 H~


Salam Maulidur Rasul 1431 H/2010 M...

Lahirnya Insan...membawa misi rahmatan lil a'lamin

Utusan terakhir-Nya...bagi umat manusia.. Ya Rasulullah..kaulah contoh tauladan ikutan kami...

"Dialah yang telah mengutuskan dalam kalangan orang-orang (arab) yang Umiyyin (tidak tahu membaca dan menulis) seorang rasul dari bangsa mereka sendiri.Yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, dan membersihkan mereka (daripada I'tiqad yang sesat), serta mengajarkan mereka kitab Allah (AL Qur'an) dan hikmah (pengetahuan yang mendalam mengenai hukum-hukum syari'at. Dan sesungguhnya mereka sebelum itu adalah di dalam kesesatan yang nyata.."(Al Jumu'ah: 2)

Ya Habiballah..kaulah yang kami rindui..

ummati..ummati..ummati..di hujung nafas mu Ya Nabi Allah...

Cahaya tauhid itu..kau harumi di segenap isi alam...

Kami syukuri nikmat Islam dan Iman ni..

Ya Allah..Sesungguhnya utusanmu ini pembawa Rahmah...teguh bersama panji-panji syahadah...menyeru umatnya kepada yang Esa...

Perbanyakkanlah selawat ke atas Nabi Junjungan...

Kekasih Allah Tauladan sepanjang zaman...

Sabda Rasulullah SAW:

"Sesungguhnya orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak berselawat kepada ku" (Riwayat Al Nasa'i & Ibn Hibban)

Sungguh, Ya Kekasih Allah..kami  mohon  syafa'at mu di sana nanti..di negeri abadi...

Marilah kita perbanyakkan selawat ke atas Junjungan mulia...khatimul An Biya'


"Hari ini telah aku sempurnakan bagi kamu agamamu, telah aku cukupkan bagi kamu nikmat ku dan aku redha Islam itu sebagai agama kamu" (Al- Maidah: 3)

” Ya Rasulullah “
 

Alangkah IndahnYa Hidup Ini
Andai Dapat Kutatap Wajahmu
Kan Pasti Mengalir Air Mataku
Kerna Pancaran Ketenanganmu
 
Alangkah IndahnYa Hidup Ini
Andai Dapat Kukucup Tanganmu
Moga Mengalir Keberkatan Dalam Diriku
Untuk Mengikut Jejak Langkahmu
 
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Tak Pernah Kutatap Wajahmu
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Kami Rindu Padamu
Allahumma Solli Ala Muhammad
Ya Rabbi Solli Alaihi Wasallim
 
Alangkah IndahnYa Hidup Ini
Andai Dapat Kudakap Dirimu
Tiada Kata Yang Dapat aku Ucapkan
HanYa Tuhan Saja Yang Tahu
 
Kutahu Cintamu Kepada Umat
Umati Kutahu BimbangnYa Kau Tentang Kami
SYafaatkan Kami
Alangkah IndahnYa Hidup Ini
Andai Dapat Kutatap Wajahmu
 
Kan Pasti Mengalir Air Mataku
Kerna Pancaran Ketenanganmu
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Terimalah Kami Sebagai Umatmu
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Kurniakanlah SYafaatmu

_Raihan_





Saturday, February 20, 2010

rumput..oh rumput..


Kisah sehelai rumput*


Pada suatu hari di sekolah, seorang murid bertanya kepada guru. Ketika guru tersebut sedang mengajar mengenai kasih sayang.

Pelajar : Cikgu, bagaimana kita nak pilih seseorang yang terbaik sebagai orang yang paling kita
Sayang?macamana juga kasih sayang itu nak berkekalan?

Cikgu: Ok, kamu ikut apa yang yang saya suruh.kamu pergi ke padang dan berjalan di atas rumput
Sambil memandang rumput di hadapan kamp, pilih yang PALING cantik tanpa menoleh ke
Belakang lagi walau pun sekali. Dan petik rumput yang paling cantik dan bawa ke kelas.


Apabila pelajar tersebut pulang ke kelas, tiada sehelai rumput pun dengannya. Cikgu bertanya kenapa tiada rumput yang di pilih?

Pelajar : Tadi semasa saya berjalan, saya carilah rumput yang paling cantik. Memang ada banyak yang Cantik tapi cikgu kata petik yang paling cantik, maka   saya pun      terus berjalan ke hadapan
Sambil mencari yang paling cantik tanpa menoleh ke belakang     lagi. Tapi sampai di penghujung
Padang,saya tak jumpa pun yang paling cantik. Mungkin ada yang di belakang saya tadi rumput
yang paling cantik tapi cikgu ada cakap tak boleh menoleh ke belakang semula, jadi tiadalah
Rumput yang saya petik.

Cikgu: Ya , itulah jawapannya. Maknanya apabila kita telah berjumpa dengan orang yang kita
sayang, janganlah kita mencari lagi yang lebih baik daripada itu.kita patut hargai orang yang
berada di depan kita sebaik-baiknya. Jangan kita menoleh ke belakang lagi kerana yang berlaku
tetap dah berlaku. Semoga yang berlalu tidak berulang lagi. Dan ingatlah orang yang paling
kita sayang itulah yang paling Cantik dan paling baik. Walaupun nak di ikutkan banyak lagi
yang cantik dan baik seperti rumput tadi…

Mengapa manusia tidak pernah senang dan berpuas hati dengan apa yang di miliki? belajar lah untuk menghargai apa yang di anugerahkan kepada kita dan mensyukuri setiap pemberian Nya…Jika dia ialah seorang sahabat, suami atau isteri..terimalah kekurangan dan kelebihannya seadanya kerana kita saling melengkapi antara satu sama lain. Sesungguhnya, setiap manusia itu adalah sebaik-baik kejadian yang telah di ciptakan oleh Yang Maha Esa...


*Terima kasih kepada seorang sahabatku yang sudi berkongsi kisah sehelai rumput ini..

I'm bored??


Do we always feel bored?

When too many work that we need to do.

Perhaps, we will feel so depression, right?..huhu, what to do? Do we need enough time?


Let’s become a productive Muslim(“,)…Do we really appreciate 24 hours that Allah gives us?. It’s become worse when we always delay all the works that need to be done in certain period of time.

Allah says in the Holy Book:
"By (the token of) time (through the ages). Verily mankind is in a state of loss, except those who have faith and do righteous deeds, and (join together) in the mutual teaching of truth and of patience and constancy." – Al-Asr: 1-3

There are some useful tips and n that I would like to share with you…
*Sources: www.Productivemuslim.com

Boredom is an emotional state experienced during periods lacking activity or when individuals are uninterested in the activities presented to them (Wikipedia)

i.e. when you have nothing to do, or the thing that you do is not interesting because it’s either too easy or too hard, then you “switch off” and become bored.

It’s obvious that boredom isn’t a good thing for ProductiveMuslims, but how should we fight it?

In today’s fast track world, we’re actually constantly fighting boredom but not sure if we’re doing it the right way. We’re basically fighting boredom with any stimulus we can find or what I call “distractions” that “keep us busy”. For example, at home, you’ll either be watching TV, surfing the net, listening to something, talking on the phone, or reading a novel, the moment you stop yourself from these stuff..you’re bored! .

The problem with using these “distractions” is that they are temporary. The moment you finish with them, boredom kicks in.

So how do you fight boredom properly?

Firstly, understand that boredom comes from the lack of proper utilizing an amazing blessing Allah gave us: free time. And this is common among people, Prophet Muhammad (Peace be upon him) said:“There are two blessings in which most people are in great loss: 1) Good health and 2) Free time.”So, boredom is a sign that we're becoming such people whom the Prophet mentioned.

Secondly, boredom comes from lack of focus on what is your purpose in life. The moment you realize that you’re on this earth for a purpose, and you identify that purpose within the different aspects of your life, you’ll not get bored! Because you’ll always try to fill your time with what will help you achieve that purpose. Let me give you an example, say you’re at the doctor’s clinic, waiting for your turn. Naturally, you’ll sit there and be bored. But the moment you realise that “hold on a minute” I’m a Muslim and my purpose in life is to worship Allah, and the best way for me to worship Allah in this moment is to Remember Him or read some Quran, hence you fight boredom and make great use of your time!

Here’s some tips to fight boredom:

Identify your purpose in Life, for Muslims, this is easy: our purpose is to worship Allah (in the holistic and specific sense, i.e. worship in the sense of praying, fasting, charity etc, as well as in everything we do, we should do it for His sake, include eating, sleeping.etc)

Understand that free-time is a blessing and it should be utlizied properly. This could easily be achieved by simply scheduling something during your free time. e.g. If you know you have nothing to do this weekend, schedule a productive activity, book yourself to a course, do something productive in that free time and you won’t get bored (or regret wasting time!)

If you’re bored because something is too easy - find a challenging task to do.

If you’re bored because something is too hard - ask questions and research the answers until you understand. There’s nothing that’s beyond comprehension, you just need to exert the extra effort to absorb it.

It’s OK to relax and take time out. But as long as that doesn’t lead to boredom. I don’t want you to burn yourself out. But even with your relaxation, you should schedule them, so you know when you're supposed to relax. It might sound weird to "schedule" your relaxation time, but try it. Sit down tomorrow and schedule EVERYTHING, including your relaxation time. When it gets to that time, you'll feel so good and not guilty at all, because you're now relaxing, knowing it's the time you've given yourself to relax and nothing else!

Avoid temporary distractions:
TV, randomly surfing the net for no reason, talking on the phone for no reason, all these things will keep you “occupied” but in the grande scale of things, are they really beneficial?? Also, normally, we feel worse or even more “bored!” after them and look for something else to distract us thereafter.
    Indeed, Hopefully, it will helps us to manage our time wisely..throw away the boredom.. you may locate your time do  to a good thing to fulfill your time by doing a beneficial deed ... contribute for the ummah..seek the blessing of Allah (",) insya Allah. Do always remember our responsility as the servant and the vicegerent of Allah on this earth..
The Almighty said in The Holy Book in surah Muhammad verse 7:
"O ye who believe! if ye help Allah, He will help you and will make your foothold firm"

catatan naurah, 20 feb 2010

Saturday, February 6, 2010

~Langkah Tercipta~


Semalam aku kelukaan,
kecewa kehampaan,
mencalar ketabahan.

Mimpi yang sering ku harapkan,
menjadi kenyataan,
namun tak kesampaian.

ALLAH..
inginku hentikan langkah ini,
bagaikan tak mampu untuk ku bertahan,
semangat tenggelam,
lemah daya,

Haruskah aku mengalah,
namun hati kuberbisik,
inilah dugaan.

Dan mataku kini terbuka,
pada hikmah dugaan,
uji keimanan (menguji keimanan),

Tak dilontarkannya ujian,
di luar kekuatan,
setiap diri insan.

ALLAH..
pimpinlah diriku,
tuk bangkit semula,
meneruskan langkah,
perjuangan ini,
cekalkan hati dan semangatku.

Kurniakan ketabahan,
agar mimpi jadi nyata,
PadaMU ku meminta.

Daku mohon agung kudratMU,
Wahai Tuhan yang Satu,
Segalanya dariMU.
_UNIC_

..Jagalah Maruah & Doa pelindung..

      Doa yang boleh di amalkan oleh semua wanita supaya terhindar daripada terperangkap dalam situasi yang boleh membawa kepada rogol, pencabulan dan lebih dasyat lagi penderaan seks yang di akhiri dengan pembunuhan.

1) Hadis Riwayat Abu Daud, 4/323; Al Tirmizi, 5/465 dan Ahmad Tirmizi; Hasan

“Rasululllah s.a.w bersabda sesiapa yang berdoa: Dengan nama Allah yang tiada di mudaratkan sesuatu apapun dengan nama-Nya sama ada di bumi dan di langit, dan Dialah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui sebanyak tiga kali, maka dia tidak di timpa kesusahan bala dan musibah sehinggalah subuh esoknya, dan barang siapa membacanya ketika subuh tiga kali, dia tidak di timpa kesusahan bala dan musibah sehingga petangnya.”

2) Hadis Riwayat Ibn Hibban, 3/298

“ Nabi bertanya: “Kenapakah kamu?. “ Lelaki itu menjawab. “Aku di sengat kala. “ Nabi berkata : “Sekiranya engkau membaca pada setiap petang: Aku berlindung dengan kalimah Allah yang sempurna daripada segala kejahatan makhluk,” nescaya yang sempurna daripada segala kejahatan makhluk, “ nescaya dengan izin Allah kamu tidak akan di timpa musibah”

3) Doa yang di baca oleh Isteri Nabi Ibrahim, Siti Sarah. Doa ini menyebabkan para lelaki zalim termasuk rajanya melarikan diri.

“Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahawa aku beriman kepadaMu dan rasul Mu, dan aku menajga kehormatanku hanya untuk suami ku, maka lindungilah aku daripada di kuasai oleh orang kafir dan zalim”

Riwayat al Bukhari, no 2104, 2/2722: Sunan Al Baihaqi, 5/97, Musnad Ahmad, 2/403: Fath al Bari, 6/393, Umdat al Qari, 12/30, Sahih.

Semoga ia dapat di amalkan oleh semua wanota muslimah, Cuma jangan lupa bahawa, doa ini bersifat tawassul (mempunyai hubungan) dengan amal soleh anda, iaitu apabila di ikat dengan imanya kepada Allah dan rasulNya.

Justeru, seolah-olah kemakbulan doa ini diikat tentang kewajipan untuk beriman dengan Allah dan Rasul Nya dan penjagaan aurat anda.Tanpanya, doa ini masih amat di galakkan untuk di lakukan, Cuma jaminan keberkatan doa lebih pasti bagi yang apa yang dikatanya (dalam doa ini) menetapati apa yang sebenarya penampilan fizikal anda.


Sumber: Petikan daripada buku, Untukmu Umat..Membina keyakinan diri untuk kehidupan hakiki oleh Ustaz Zaharuddin Abd Rahman.

Thursday, February 4, 2010

~permata hati ayah & Umi~

    
      Cuti pertengahan semester baru-baru ini, aku dapat meluangkan masa cuti di rumah kakak di Kulim.Walaupun hanya dua hari..saat bersama amat bermakna. Dek kerana terlalu rindukan kedua cahaya mata kakak, Kak Long..tiga tahun tujuh bulan dan Adik setahun tiga bulan..wajah dua anak kecil ini .Akhirnya dapat melepaskan rindu dan peluk cium dua orang anak buah ku ini. 
     Alifah seawal setahun sudah pandai memakai tudung- tudung yang comel, langsung tak merengek untuk tanggalkan dan ada suatu ketika Kak Long tertidur dengan bertudung...hehe, comel sekali. Jika aku ke kedai, pasti Kak Long akan ikut..mula lah Kak Long mencari tudung comelnya untuk di pakai.
"Lang, kak nak itut pi dai.." Alifah dengan pelatnya yang baru mula belajar untuk bercakap, lalu berlari ke bilik mencari tudung comelnya itu...aku tersenyum. "Jom, mak Lang nak bawak pi kedai ni..."
Benarlah kata pepatah meletur buluh, biarlah dari rebungnya..kalau dari buluh baru nak di lentur..patah lah buluh tu..sudah semestinya sudah terlambat. 
Inilah anugerah yang Maha Esa kepada setiap pasangan suami Isteri, anak-anak itu amanah yang tak ternilai harganya. Seawal kelahiran anak, Islam telah meletakkan panduan supaya mengazankan di telinga kanan dan mengqamatkan di telinga kiri, di berikan nama yang baik-baik kerana nama membentuk peribadi seseorang, mengtahnikan bayi dengan manisan dan melaksanakan Aqiqah sebagai tanda kesyukuran atas kurnian cahaya mata yang tak ternilai ini.
Imam Al Ghazali:
“Anak-anak merupakan amanah bagi kedua orang tuanya.Hatinya yang suci masih bersih tanpa ukiran dan gambar.Dia sedia di ukir dan cenderung kepada apa sahaja yang mempengaruhinya.Jika dia di biasakan dan di ajar kepada kebaikan, maka tumbuhlah menjadi anak yang baik”

Anak juga sebahagian daripada ujian daripada Allah. Allah menguji dari seawal kelahiran sehingga dewasa. Susah payah ibu yang mengandung, melahir dan membesarkan anak kecil itu. Keringat si ayah untuk mencari rezeki tanpa rasa jemu demi keluarga tersayang.Sungguh mulia pengorbanan kedua insan ini.
Sedih dan kecewa apabila melihat bayi-bayi yang berdosa di buang dan di gugurkan kerana perilaku manusia yang menurut tuntutan nafsu. Tegar melakukan maksiat dan sanggup menggurkan anak yang tak berdosa itu.Indahnya Islam apabila menghalalkan sesuatu yang haram dan menggariskan segala panduan berpandukan landasan fitrah insani. Keluarga adalah institusi asas sesebuah masyarakat. Anak-anak soleh dan solehah yang di lahirkan daripada usrah yang mawaddah dan sakinah akan membahagiakan dan menyumbang untuk agama, bangsa dan negara. 
Firman Allah dalam surah al Furqan ayat 74 yang bermaksud:
"Dan juga mereka (yang di redhai Allah itu ialah orang) yang berdoa dengan berkata:
"Wahai Tuhan kami, berilah kami beroleh daripada isteri-isteri dan zuriat keturunan kami perkara-perkara yang menyukakan hati melihatnya dan jadikanlah kami pemimpin ikutan bagi orang yang (mahu) bertakwa"

Maka terbinalah Bait al Muslim yang akan sentiasa bersinar dengan cahaya sakinah dan mawaddah dan lahirnya mujahid dan mujahidah pembela agama yang bersemangat berjuang untuk menegakkan risalah nubuwwah...insya Allah(“,)...
waAllahu’alam.


Si Anggerik desa.


 

 Anggerik desa tak secantik mawar merah di taman larangan..
Tumbuhnya di tiap pepohonan. 
Keindahanya tak lupus di mamah zaman…
Silih berganti..mekar di rimbunan..
Tetap berseri walaupun tanpa dek tambahan…
Hidupnya subur di pingiran..

Anggerik desa sesuci seputih kelopak hiasan…
Luhur budinya…sebersih buih-buih di lautan..
Akhlak terpelihara…seindahnya hiasan
Sopan dan santun, indah bicara tersusun ucapan..
Desa gusar di landa Ribut dan taufan...
Tidak gentar di uji iman, langkah di atur penuh kesabaran…
Nilai sebuah kesabaran, pasti di pengakhiran.. 
menantinya sebuah ganjaran..

Anggerik desa tak seindah dahlia di hiasan jalanan..
Tidak mengenal erti kepayahan..
terus membara semangat perjuangan..
Desa ini..tempat kelahiran…
terus teguh tetap pegangan di gengaman…
Moga anggerik desa terus mekar di pepohonan..
menjadi perhiasan bumi Tuhan..

~catatan Naurah Feb 2010~




Friday, January 15, 2010

sujud terakhir..


Sujud Terakhir..


Ya Allah..Pemilik alam ini..
Saat dahi bertemu sejadah..ku amati..ku mohon khusyuk itu milik ku.

Adakah ini sujud terakhirku?


Barakah ini..maghfirah itu masihkah mampu ku miliki?

masihkan ada sekelumit ruangnya untuk ku?

Nafas ini hanya pinjaman daripadaNya..

Sujud syukur ku atas segala nikmat..

Adakah ini sujud terakhirku?


Namun, Ya Allah..aku tewas dengan bisikan itu..

Bisikan yang menusuk ke pancaindera yang Kau pinjamkan ini..

Ah, aku tersungkur lagi..

Aku aturkan langkah..ku pautkan sujud ku padaMu…

Adakah ini sujud terakhirku?


Ya Rabbul Kareem..

Saat kalimah suci Mu ku alunkan..

Hamba kerdil ini menafsir…menghadami surat-surat itu…

Surat cintaMu pengubat rindu ini..

rindu buat Yang TerAgung..yang Maha Pemurah..lagi Maha Mengasihani..

Ya Allah betapa Agungnya KasihMu buat hambaMu ini..

Pengabdian ini untuk Mu…Ya Rabbal ‘alamin..


Hidup ini penuh rona cubaan..rona ujian..

Hidup ini hanya senafas pinjaman…

Ku aturkan langkah..memohon kudrat dariMu Ya Rabbul Izzati..

Tika ini..tika ku minggir dari rindu pada Mu..

Adakah aku mampu sampai ke syurga hakiki di sana nanti?

Saat bertemu Mu..saat itu..saat nisab di perhitungkan..

Adakah bisa ku menemuiMu dalam setiap sujudku?

Adakah ini sujud terakhir ku?


Tiada pintu taubat di beri..tiada nafas jasad yang kaku..

Jika inilah sujud terakhir ku…

maka tatkala saat-saat akhir sujud terakhir ini..

Kematian itu menjemput ialah suatu kepastian..

Wednesday, January 6, 2010

Never Alone

 


Sometimes, when the world’s not on your side
You don’t know where to run to
You don’t know where to hide
You gaze at the stars in the sky
At the mountains so high
Through the tears in your eyes
Looking for a reason, to replace what is gone
Just remember, remember,
That you are never alone

You are never alone
Just reach into your heart and
Allah is always there
You are never alone
Through sorrow and through grief
Through happiness and peace
You will never be alone

So now, as you long for your past
Prepare for the future
But knowing nothing’s going to last
You see, this life is but a road
A straight and narrow path
To our final abode
So travel well O Muslim and
Paradise will be your home
and always remember,
You are never alone
Words and Melody
by Zain Bhikha

Monday, January 4, 2010

PENGGUNAAN NAMA ALLAH OLEH AGAMA-AGAMA LAIN


PENGGUNAAN NAMA ALLAH OLEH AGAMA-AGAMA LAIN 
Wednesday, 4 March 2009

    Sehingga Mac 2009 polimik penggunaan nama Allah berterusan di Malaysia apabila Gereja Kristian di Malaysia mahu menggunakan nama tersebut dalam penerbitan mereka di atas dakwaan kebebasan beragama yang dijamin oleh perlembagaan. Dalam konteks Malaysia, Islam sebagai agama rasmi di negara ini, telah mempunyai beberapa peraturan untuk menjaga kesucian agama Islam dan ia dijamin juga oleh perlembagaan. Bahkan di negeri-negeri, Raja-Raja Melayu memiliki kekuasaan untuk menjaga isu-isu agama termasuklah hak esklusif penggunaan nama Allah untuk agama Islam.

Perdebatan berkenaan dengan penggunaan nama Allah oleh agama lain mengundang dua pandangan berbeza di kalangan umat Islam samada di kalangan ahli agama, mahupun masyarakat awam.

Terdapat golongan memandang nama ‘Allah’ sememangnya digunakan oleh al-Quran untuk menceritakan bagaimana kepercayaan umat-umat terdahulu. Sebagai contoh, dalam surah Luqman, ayat 25. Allah SWT bermaksud: 

Sekiranya kamu bertanya mereka (orang-orang kafir), siapakah yang menjadikan langit-langit dan bumi, nescaya mereka mengatakan Allah. Katakan (wahai Muhammad): Segala puji bagi Allah. Bahkan kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Demikian juga dalam surah al-Ankabut, ayat 61, Allah SWT berfirman bermaksud:

Dan sekiranya kamu bertanya mereka siapakah yang menjadikan langit-langit dan bumi dan yang mengaturkan matahari dan bulan, nescaya mereka mengatakan Allah. Justeru kenapakan mereka berpaling (dari) mentauhidkan Allah?

Golongan ini mengatakan bahawa al-Quran sendiri menyebut bahawa masyarakat bukan Islam menggunakan istilah ‘Allah’ untuk tuhan.

Pada saya, ada beberapa perkara yang perlu diteliti dalam memperbahaskan isu penggunaan nama Allah. 

Pertamanya, kitab-kitab agama-agama langit terdahulu tidak diturunkan dalam bahasa Arab, justeru tidak timbul langsung penggunaan istilah ‘Allah’ untuk agama-agama langit seperti ‘Yahudi’ dan ‘Kristian’. Al-Quran kemudiannya menjelaskan bahawa konsep tauhid agama tersebut yang asal ialah kepercayaan kepada Allah SWT walaupun telah diselewengkan oleh para pendeta dan paderi. Hakikat bahawa kitab-kitab Yahudi dan Kristian bukan berbahasa Arab iaitu taurat dan injil (bible), keduanya tidak menggunakan nama ‘Allah’ untuk merujuk tuhan mereka. Sebaliknya Islam tidak pernah menggunakan istilah yang mereka gunakan terhadap Allah sebagai nama kepada tuhan di dalam ajaran Islam.

Keduanya, ayat-ayat yang disebutkan di atas adalah berkaitan dengan ayat-ayat sebelumnya. Contohnya, ayat 23 dan 24 Surah Luqman menceritakan orang-orang yang kufur terhadap Allah SWT dan mereka ditimpakan dengan azab yang pedih. Justeru, di kalangan mereka yang kufur (menyembah selain dari Allah SWT), jauh di sudut hati mereka mengakui adanya tuhan yang esa yang menjadikan langit dan bumi. Ini tidak menandakan orang-orang kafir menggunakan lafaz Allah dan menyembah Allah sebagai tuhan mereka.

Demikian juga dalam surah al-Ankabut, ayat sebelumnya menceritakan rahmat Allah. Sekiranya ditanya kepada orang-orang kafir siapakah tuhan mereka, nescaya mereka akan mengatakan Allah. Namun mereka tetap berpaling. Iaitu mereka masih berpaling dengan tidak meyembah Allah SWT. Justeru, ayat ini tidak boleh digunakan untuk menunjukkan tuhan mereka ialah Allah SWT.

Ketiganya, kemungkinan ada pandangan mengatakan ‘orang-orang Arab Jahiliyah’ menggunakan perkataan ‘Allah’ untuk merujuk kepada ‘tuhan’. Benarkah begitu? Sebaliknya orang-orang Arab sebelumnya banyak menggunakan perkataan ‘ilah’ untuk merujuk kepada tuhan, contohnya ilah latta dan ilah al-uzza.

Sebaliknya, al-Quran datang menggunakan perkataan ‘Allah’ dan bukan perkataan ‘ilah’ bersama penafian Allah itu mempunyai anak, dan penafian Dia mempunya pembantu yang terdiri dari ilah-ilah yang lain sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Mukminun, ayat 91 yang bermaksud:

Dan tidaklah Allah mempunyai anak, dan tidaklah bersamanya tuhan yang lain (sebagai pembantu). Oleh itu, sekiranya setiap tuhan memutuskan keputusannya sendiri, nescaya sesetengahnya di atas sesetengah yang lain (menguasai yang lain), mahasuci Allah daripada apa yang mereka sifatkan.

Keempatnya, umat Islam perlu mempertahankan penggunaan nama ‘Allah’ hanya untuk orang-orang Islam kerana beberapa sebab, antaranya: 

i. Antaranya penggunaan perkataan ‘Allah’ telah melalui proses penyucian dari segala kesyirikan yang muncul dari zaman selepas nabi-nabi sebelumnya sehingga hari ini sehingga diiktiraf sebagai tuhan orang-orang Islam. Sila lihat kamus-kamus moden bagi membuktikan perkara ini. Justeru itu, membenarkan penggunaan istilah itu kepada bukan Islam adalah satu tindakan ke belakang untuk kembali ke zaman penggunaan nama Allah yang dipenuhi kesyirikan. Sekaligus, ia mengenepikan usaha al-Quran yang berulang kali menafikan sifat-sifat kesyirikan (mempunyai anak dan pembantu-pembantu) yang ada pada zat Allah SWT.

ii. Berpegang pada pandangan bahawa dalam al-Quran menyebut orang-orang kafir menggunakan penggunaan nama Allah, adalah pandangan yang cetek. Tidakkah mereka membaca bersama bahawa al-Quran berulang-kali mensucikan nama ‘Allah’ dari bersifat dengan sifat kelemahan.

iii. Kalau benarpun, ada penggunaan ‘Allah’ sebelum Islam, ia adalah nama umum, yang kemudiannya menjadi nama khusus untuk tuhan orang-orang Islam setelah melalui proses mensucikan nama Allah SWT dari segala sekutu yang tidak layak untuknya.

Semoga membantu kita memahami kepentingan isu ini. Untuk tidak mengulang perbahasan lanjut, saya suka juga merujuk kepada artikel di bawah yang boleh dijadikan rujukan dalam isu ini.

Sekian, wallahu a’lam.

Dr Asmadi
4 Mac 2009


Isu Nama Allah: Persoalan Aqidah Bukan Perebutan Nama
Khalif Muammar*


Isu Herald Tribune telah mengundang reaksi pelbagai pihak sejak awal tahun ini. Setelah Kementerian Dalam Negeri memutuskan untuk melarang penggunaan nama Allah oleh surat khabar tersebut, Dewan Ulama Pas (Harakah, 1 Januari 2008) menyatakan Islam tidak melarang penganut agama lain menggunakan kalimat Allah bagi Tuhan mereka. Sebagai reaksi saya juga telah membahas isu ini dalam artikel yang diterbitkan dalam laman web khairaummah. com pada 20 Januari 2008 dengan harapan ia dapat membantu umat Islam di negara ini memahami persoalan yang sebenar. 

Namun isu ini ternyata menjadi hangat kembali apabila Mufti Perlis, Dr. Asri Zainul Abidin, menulis dalam Mingguan Malaysia pada 27 April 2008 bahawa Umat Islam tidak perlu berebut nama Allah dengan penganut Katolik. Mereka berhak menamakan Tuhan mereka dengan nama Allah kerana dalam al-Qur'an pun kaum Musyrikin menggunakan nama Allah. Mufti juga menegaskan bahawa yang menjadi permasalahan adalah bukan nama Tuhan tetapi kesyirikan penganutnya. Saya terpanggil untuk memberi tanggapan kerana hal ini akan mengundang kekeliruan jika tidak diperjelaskan dengan tuntas. 

Yang paling penting kita perlu jelas bahawa nama Allah telah menjadi nama khas bagi Tuhan umat Islam. Perlu dibezakan antara kalimat Allah dari sudut bahasa yang telah wujud sejak zaman Jahiliyyah dengan kalimat Allah yang telah diIslamkan setelah menjadi istilah atau nama khas. Jika kita perhatikan kalimat tawhid: la ilaha illa Allah. Ia tidak bermakna tiada tuhan melainkan Tuhan, tetapi tiada tuhan melainkan Allah. Kerana jika ia bermakna tiada tuhan melainkan Tuhan maka tidak ada maknanya seseorang mengucapkan kalimat tawhid itu. Oleh kerana itu sarjana-sarjana Islam tidak bersetuju untuk menggantikan Allah dengan God dalam bahasa Inggeris. Pengislaman nama Allah ini juga jelas apabila kita lihat surah al-Ikhlas, antara surah terpenting dalam al-Qur'an, yang menjelaskan siapakah Allah dan apakah sifat-sifatnya: "Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia"."(al-Ikhlas: 1-4). Berdasarkan Surah dia atas, sebagai orang Islam kita mesti yakin bahawa yang bernama Allah adalah yang mempunyai sifat-sifat tersebut. Dalam erti kata lain kita tidak mengakui bahawa yang tidak mempunyai sifat-sifat tersebut juga adalah Allah. 

Seperti yang dinyatakan oleh Dr. Asri memang masyarakat Jahiliyyah menggunakan nama Allah, tetapi nama Allah di situ digunakan dari sudut bahasa sahaja dan sebelum perkataan itu diIslamisasikan. Ia kemudian menjadi nama khusus yang merujuk kepada sifat-sifat di atas. Kata-kata solat, contohnya, dari segi bahasa adalah doa dan telah digunakan oleh orang Arab sejak pra-Islam lagi, ia kemudian menjadi istilah yang merujuk khusus kepada apa yang dicontohkan oleh Rasulullah s.a.w. Oleh itu kita tidak boleh mengatakan orang Katolik juga melakukan solat hanya kerana mereka berdoa di gereja.

Umat Islam perlu melihat apa yang berlaku di sebalik persoalan nama Allah ini. Jika kita lihat dengan teliti isu ini dengan isu-isu yang sebelumnya kita akan dapat melihat hubungannya. Contohnya isu pluralisme agama yang giat dipromosikan oleh orang bukan Islam dan sebahagian orang Islam sendiri iaitu Islam Liberal. Para pendukung pluralisme agama ini berusaha untuk mendangkalkan makna-makna atau kata kunci dalam agama. Mereka mengatakan bahawa Tuhan dalam agama manapun pada peringkat tertinggi (transcendental) adalah sama. Bagi umat Islam, konsep Tuhan kita jauh berbeza dengan konsep Tuhan dalam agama mana pun. Pendukung pluralisme agama juga menekankan wujudnya persamaan antara agama-agama dan perbezaan perlu diketepikan untuk kebaikan bersama. Padahal bagi kita perbezaan fundamental antara Islam dengan agama lain walaupun sedikit adalah sangat penting dan tidak boleh dipinggirkan. Sebahagian orang bukan Islam bahkan mengaku telah Islam tanpa perlu masuk Islam. Kerana mereka merasa telah 'berserah diri' kepada Tuhan. Di sini mereka merujuk perkataan Islam dari sudut bahasa ialah berserah diri. Jika Allah hanya bermakna Tuhan maka kini mereka akan mendakwa bahawa mereka juga telah beriman kepada Allah. Padahal mereka hanya percaya pada Tuhan.

Contohnya lagi kita tidak boleh menggunakan kata 'liberal' untuk makna terbuka kerana ia memberi konotasi yang dalam. Kita pun tidak akan mengatakan bahawa mereka telah memonopoli perkataan liberal. Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas adalah sarjana Islam yang paling tegas dalam hal pemberian nama atau istilah ini. Bagi beliau banyak kekeliruan berpunca daripada penamaan. Contohnya pelajaran berbeza dengan pendidikan dan ta'dib. Istilah moden dan klasik dalam pembahagian sejarah bagi beliau tidak relevan dengan sejarah Islam dan lain-lain lagi. 

Sebenarnya tidak ada nas sorih dan qat'i dalam persoalan ini. Nas dan dalil yang dikemukakan oleh Dr. Asri hanya menunjukkan bahawa masyarakat Jahiliyyah telah menggunakan kalimat Allah untuk merujuk kepada Tuhan mereka. Kita perlu melihat ayat-ayat dan hadis-hadis seumpamanya dalam konteks penggunaannya dari sudut bahasa. Dari sudut bahasa Allah bermakna Tuhan. Ayat-ayat tersebut turun ketika Islam mula diperkenalkan sebagai proses berdialog dengan kaum musyrikin. Setelah konsep-konsep penting dalam Islam jelas dan worldview Islam terbentuk maka di sini proses Islamisasi berlaku baik terhadap bahasa, budaya dan pemikiran masyarakat Arab. Oleh kerana itu dengan mendangkalkan makna Allah maka kita telah menafikan proses Islamisasi tersebut dan kembali seolah-olah Islam belum bertapak. Memang kita boleh membuat kesimpulan tidak menjadi masalah orang bukan Islam menggunakan nama Allah kerana hal tersebut "tampak" secara literalnya wujud dalam al-Qur'an. Namun, dalam berijtihad seseorang ilmuwan tidak boleh hanya bersandarkan kepada makna literal teks atau nas tetapi perlu juga melihat kepada maqasid dan falsafah yang mendasarinya sebagaimana telah ditegaskan oleh al-Shatibi. 

Persoalan nama Allah tidak boleh dilihat dari sudut fiqh sahaja khususnya kerana ia menyangkut aqidah. Ia mesti melibatkan kepakaran dalam bidang falsafah Islam, dan lebih spesifik metafizik Islam dan epistemologi Islam. Dalam perbualan peribadi dengan seorang tokoh pemikiran Islam, Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud, beliau memberitahu dan menyambung hujah Prof S.M.N al-Attas bahawa al-Qur'an telah merubah dan memperbaiki kekeliruan dan kerusakan yang telah terjadi kepada hakikat-hakikat penting yang berkisar di sekitar ketuhanan, kemanusiaan dan kejadian. Dalam hal ini yang terjadi ialah proses Islamisasi terutama tentang hakikat ketuhanan yang merupakan tiang seri agama Islam. Menurut beliau lagi sekarang ini yang kelihatan sedang berlaku ialah proses deislamisasi dengan membawa makna-makna yang asing dan berlawanan dengan aqidah dan pandangan alam Islam, samada aliran-aliran sekular atau dari agama-agama lain. Prof Wan Mohd Nor juga berkata setiap istilah dalam semua bahasa mempunyai batas-batas makna yang sah yang mencerminkan pandangan alam tertentu, dan yang membezakan sesuatu istilah itu dengan yang lain. Persamaan yang banyak pun masih memerlukan istilah atau nama yang berbeza jika terdapat hanya satu perbezaan yang penting. Sebab itulah semua bahasa-bahasa yang tinggi mempunyai kamus. Keldai, kuda, baghal banyak persamaan tetapi terdapat perbezaan; dua manusia kembar siam juga diberi nama yang berbeza. Orang bukan Islam boleh mempekayakan kamus peristilahan Bahasa Melayu dengan menggunakan nama lain bagi Tuhan mereka. Dalam konteks Kristian, mereka boleh gunakan Tuhan, Dewata, Deus, Theos, atau God. Selama ini gereja, kuil, sami, paderi, uskup dan lain telah memperkayakan Bahasa Melayu dan tidak menimbulkan kekeliruan dan kemarahan masyarakat yang beragama lain. Di sini jelaslah bahawa seseorang yang bercakap tentang persoalan aqidah mesti faham kaitannya dengan worldview, tasawur dan pemikiran Islam. Dalam hal ini, aqidah tidak hanya bermakna kepercayaan dan keimanan dalam ertikata yang sempit seperti biasa difahami oleh masyarakat umum, namun ia adalah satu set keyakinan yang dapat memberi kesan kepada cara berfikir (worldview) dan cara hidup (way of life) seseorang Muslim.

Kita juga perlu berfikir mengapa kaum Katolik ingin menggunakan nama Allah? Kita tidak boleh tertipu dengan hujah persamaan nama yang bagi sesetengah orang hanya bersifat luaran. Kita tahu pada hakikatnya nama Tuhan mereka bukan Allah. Nama Allah mungkin relevan bagi penganut Kristian di negeri-negeri Arab tetapi tidak di selain negeri Arab. Oleh itu jelas terdapat agenda yang tersembunyi yang tidak boleh luput dari perhatian umat Islam. Isu ini juga dibangkitkan dengan memanfaatkan toleransi dan dialog antara agama yang semakin mendesak ketika ini. 

Tindakan membiarkan pihak Kristian menggunakan kalimat Allah bukan satu toleransi tetapi satu penggadaian hak dan kedaulatan. Ia adalah satu kerugian yang besar dan kelemahan yang nyata apabila umat Islam membiarkan penganut agama lain mendangkalkan konsep dan istilah penting dalam Islam. Perkataan Allah, solat, tawhid, rasul, bahkan istilah Islam itu sendiri membawa makna yang tersendiri setelah diislamisasikan. Kalimat-kalimat ini telah menjadi bahagian penting daripada pandangan sarwa Islam (Islamic worldview). Jika ia dikaburkan maka sudah tentu akan memberi kesan kepada pemikiran dan aqidah umat Islam. Sesiapa pun yang ingin memahami persoalan ini perlu sedar bahawa beberapa istilah keagamaan tertentu telah menjadi 'milik' umat Islam. Sebarang tindakan meng-'import' nya boleh dianggap sebagai penyalahgunaan dan pencabulan terhadap agama Islam. Istilah-istilah keagamaan mesti dihormati, dari agama manapun ia datang, oleh penganut agama lain. Toleransi mungkin berlaku jika wujud penghormatan terhadap agama lain. Nama dan istilah tertentu seperti Pope, Paderi (priest), Sami (Monk) dalam agama-agama tertentu tidak boleh digunakan sewenang-wenang oleh penganut agama lain. Ini bukan sahaja kerana ia telah sinonim dengan agama penggunanya tetapi juga kerana kalimat ini telah diwarnai atau mengandungi pandangan sarwa penggunanya.

Oleh itu tindakan Kementerian Dalam Negeri pada 31 Disember 2007 melarang penggunaan nama Allah dalam surat khabar Herald adalah tindakan tepat dan positif yang bermakna bagi umat Islam. Ia perlu disokong dan orang-orang agama tidak sepatutnya mengeruhkan lagi keadaan. Umat Islam mesti mempertahankan nama Allah untuk tidak digunakan oleh orang bukan Islam selagi termampu. Masyarakat Islam di negeri-negeri Arab tidak mempunyai kemampuan untuk mempertahankan hal ini kerana ia berlaku secara halus dan di luar kawalan mereka. Kebelakangan ini tampaknya ketidaksepakatan orang Islam dalam hal ini telah membuka ruang kepada Herald Tribune untuk menggugat keputusan Kementerian tersebut.

Maka dapat disimpulkan bahawa jika dilihat dari sudut falsafah dan pemikiran, dan bukan hanya dari sudut fiqh, kita akan melihat bahawa nama memberikan seribu makna. Jauhnya perbezaan antara Allah dengan Tuhan ibarat langit dengan bumi. Jelaslah isu ini bukan isu perebutan nama tetapi isu yang menyangkut jantung aqidah. Ia juga berkaitrapat dengan pendangkalan makna Allah untuk menjustifikasikan pluralisme agama. Kita tidak boleh membiarkan pendangkalan makna tersebut berlaku tanpa penolakan umat Islam. Adalah menjadi tanggungjawab semua ilmuwan Islam untuk menentang segala usaha mendangkalkan makna dalam Islam.

*Penulis adalah Felo Penyelidik ATMA (Institut Alam dan Tamadun Melayu), UKM.


Sumber : http://drasmadinet.blogspot.com/2009/03/penggunaan-nama-allah-oleh-agama-agama.html

Sunday, January 3, 2010

`Langit kehidupan~


Langit yg sentiasa berubah keadaannya.

Langit bumbung bumi...rumah insani di alam, persinggahan  sementara menuju destinasi yg  hakiki..

Birunya Langit....indah setenangnya laut..

Tiba- tiba awan hitam berarak muncul...berlalu lah langit biru itu...

bila akan muncul kembali? aku terus menanti...

ku tabahkan hati..Langit tidak akan selalunya cerah..

 Langkah di gagahkan juga dalam ribut dan taufan..

takkan ku hirau..hujan turun  merenjis ke bumi kontang ini..

ku yakin..ada rahmatNya di atas segala sesuatu...

Tabahnya sekeping hati itu...di redahi walau apa jua..

Sekeping hati dibawa berlari
Jauh melalui jalanan sepi
Jalan kebenaran indah terbentang
Di depan matamu para pejuang 

Tapi jalan kebenaran
Tak akan selamanya sunyi
Ada ujian yang datang melanda
Ada perangkap menunggu mangsa 

Akan kuatkah kaki yang melangkah
Bila disapa duri yang menanti
Akan kaburkah mata yang meratap
Pada debu yang pastikan hinggap 

Mengharap senang dalam berjuang
Bagai merindu rembulan di tengah siang
Jalannya tak seindah sentuhan mata
Pangkalnya jauh hujungnya belum tiba

.."Langit kehidupan ini akan sentiasa mendung dengan pelbagai episod dan peristiwa. Hujan, kilat, petir dan guruh akan sentiasa melakarkan suka dan nestapa di kanvas kehidupan kita.."-www.genta-rasa.com

Saturday, January 2, 2010

KES KALIMAH ALLAH: PKPIM GESA KEMUKA RAYUAN

Jumaat, 1 Januari 2010- Wakil PKPIM UIAM telah turut serta dalam satu perhimpunan bagi membantah penggunaan nama Allah dalam majalah mingguan Katolik-The Herald bertempat di hadapan Masjid Wilayah sejurus selepas solat Jumaat.

Kami menyokong untuk bersama-sama Ngo-ngo Islam yang lain untuk mengemukakan rayuan bagi keputusan yang memihak kepada 'Herald Catholic'.

Berikut adalah kenyataan media dan pendirian PKPIM mengenai isu ini:



KENYATAAN MEDIA

PERSATUAN KEBANGSAAN PELAJAR ISLAM MALAYSIA (PKPIM)

31 Disember 2009/14 Muharram 1431

KES KALIMAH ALLAH: PKPIM SOKONG KEMUKA RAYUAN



Persatuan Kebangsaan Pelajar Islam Malaysia (PKPIM) merujuk kepada keputusan Mahkamah Tinggi Kuala Lumpur berkenaan kes tuntutan pihak Herald Catholic terhadap kerajaan Malaysia untuk membenarkan mereka menggunakan kalimah Allah bagi tujuan penerbitan bahan bercetak ‘Herald Catholic Weekly’.



PKPIM melahirkan sokongan penuh kepada pihak Kementerian Dalam Negeri (KDN) dan akan bersama-sama dalam memfailkan rayuan ke Mahkamah Rayuan untuk menyemak semula keputusan yang telah diputuskan oleh Mahkamah Tinggi yang membenarkan penggunaan kalimah Allah oleh Herald Catholic dalam cetakan bahasa Melayunya.



PKPIM ingin menegaskan bahawa dalam konteks masyarakat Malaysia dan alam Melayu, kalimah Allah adalah bersifat yang hanya merujuk kepada konsep tuhan yang difahami oleh umat Islam sahaja.



Jika kita menelusuri sejarah Melayu sebelum kedatangan Islam, kalimah Allah ini tidak digunakan sebagai rujukan kepada Tuhan, tetapi istilah Allah ini wujud dan sebati dalam masyarakat Melayu selepas berlakunya proses islamisasi akar budaya dan bahasa.



Dalam pada itu, jika diteliti dari perspektif bahasa asal, seperti yang kita sedia maklum, bahasa asal Al-Qur’an adalah bahasa Arab manakala bahasa asal untuk kitab Taurat adalah bahasa Hebrew, dan bahasa yang digunakan untuk menulis kitab Injil (Bible) adalah bahasa Greek. Justeru, kalimah yang merujuk kepada istilah tuhan dalam terbitan Herald sepatutnya menggunakan istilah yang diguna pakai dalam bahasa Greek memandangkan kalimah Allah itu adalah pinjaman dari bahasa Arab (Al-Qur’an).



Sementara itu, PKPIM mengalu-alukan keputusan kabinet yang bertarikh 16 Mei 1986 yang melarang mana-mana agama selain Islam untuk menggunakan empat perkataan iaitu Allah, Solat, Baitullah dan Kaabah. PKPIM berpandangan keputusan tersebut adalah tepat, tuntas, dan seharusnya dihormati dan dipertahankan.



Dalam situasi semasa, PKPIM melihat penggunaan kalimah Allah dalam Herald ini akan menimbulkan banyak kekeliruan dalam kalangan umat Islam yang akhirnya akan membawa kepada gejala murtad sepertimana yang berlaku di Indonesia menerusi terjemahan Al-Kitab. Maka, masalah gejala murtad yang menular dalam kalangan generasi muda akan terus berleluasa.



Dalam perkembangan berkaitan, PKPIM menyeru agar seluruh pertubuhan Islam dan agensi kerajaan yang berkaitan untuk terus menggandakan usaha bagi menggerakkan aktiviti da’wah dan ta’dib bagi memastikan kefahaman umat Islam dapat dipertingkatkan.



Permasalahan ini tidak akan timbul jika kefahaman umat Islam Malaysia khususnya generasi muda terhadap konsep ‘aqidah benar-benar jelas dan mantap.




MUHAMMAD FAISAL ABDUL AZIZ (860813-38-5543)

Presiden,

Persatuan Kebangsaan Pelajar Islam Malaysia (PKPIM)

013-5303221

Friday, January 1, 2010

~Umur Itu Amanah..

 

   Ada apa pada umur? Ada orang berkata umur hanya pada angka? Ya..kiraan pada angkanya..yang penting jiwa biarlah berjiwa muda walaupun angkanya bertambah. Berbicara tentang umur, semuanya indah apabila berada di usia muda..segala-galanya dapat di lakukan, keinginan jiwa muda juga mengatasi segalanya. Jiwa yang sentiasa memberontak jika keinginan tidak di penuhi apabila di pinta. Namun, adakah kita sedar bahawa sejauh manakah umur yang di pinjamkan oleh PemilikNya ini telah di manfaatkan? .

Sabda Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis:
“Manusia yang baik ialah manusia yang panjang umurnya dan baik pula amalannya”
(Riwayat al Tirmizi).


Islam mengarahkan agar kita memanfaatkan umur sebaiknya dan sebaik-baik manusia yang menyempurnakan amanah yang di berikan oleh Allah dengan amal dan soleh dalam hidupnya.

Dalam firman Allah yang bermaksud dalam al Qasas ayat 77:
“ Carilah apa yang telah di anugerahkan Allah kepadamu (daripada kebahagiaan ) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu (daripada kenikmatan ) duniawi. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu melakukan kerosakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melakukan kerosakan.


Kehidupan di dunia janganlah di persia-siakan untuk kenikmatan dunia semata-mata. Sebelum pintu taubat tertutup...sentiasalah perbaharui niat dan mengingati akan kematiaan yang tidak mengira darjat, umur dan bangsa. Ia telah tertulis di Luh Mahfuz seseorang anak adam bermula pada seawal kejadian. 

     Sekadar peringatan untuk diri saya dan sahabat-sahabat, Ingatlah masa muda ini, apakah yang sumbangan kita kepada agama? Sudah terlaksanakah tanggungjawab sebagai hamba dan Khalifah Allah di muka bumi ini ataupun kita masih enak di buai mimpi yang indah di kala siang dan dinihari yang penuh dengan angan-angan yang belum pasti.Dalam sebuah Hadis Nabi SAW, baginda ada bersabda mengenai peringatan lima perkara sebelum lima perkara, antaranya ialah Muda sebelum tua.

Janganlah menunggu di kala senja untuk meningkatkan iman dan takwa, menambahkan mata ganjaran amal dan ibadah. Usia muda bukan di isi dengan keseronokan semata-mata.

Ibn Umar meriwayatkan Hadis Rasulullah SAW yang bermaksud:
“ Bercucuk tanamlah (berusahalah) untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selamanya dan beramallah untuk akhiratmu seolah kamu akan menemui maut pada keesokan harinhya”


      Mari lah kita singkap kembali Sirah tauladan para sahabat-sabahat Rasulullah SAW dan para pembela Islam yang tercinta yang muda dan gagah dalam menyebarkan syiar Islam. Kecekalan Saidina Abu Bakar memimpin kaum Muslimin selepas kewafatan Nabi SAW, Semangat yang tinggi Saidina Umar al Khattab menyumbang sepenuh tenaga dan harta untuk agama Allah ini. Tercatat dalam lipatan sejarah Pemimpin tentera Islam, Salehuddin Al Ayubi yang berjaya menawan Baitul Maqdis daripada genggaman tentera Salib dan para ilmuwan Islam yang tersohor pada abad ke 6 dan 7, ketika itu keagungan peradaban Tamadun Islam makin berkembang dan di kagumi oleh sarjana barat. Tokoh-tokoh ilmuwan ini banyak menghabiskan usia muda mereka dengan menuntut ilmu dan berbakti kepada agama. Ini lah contoh yang patut kita contohi dan teladani.

Pesanan Imam Al Ghazali dalam al Bidayah:

“Fikirkan dan renungilah tentang singkatnya umurmu kamu sekali pun kamu telah hidup seratus tahun misalnya, dengan membandingkan dengan kedudukan kamu di Negara Akhirat yang merupakan tempat yang kekal abadi. Amat-amatilah bagaimana kamu sanggup memikul kesusahan dan kehinaan yang kamu rasai dalam menuntut dunia selama sebulan atau setahun, kerana mengharapkan kerehatan dengannya untuk 20 tahun. Kenapa kesusahan selama beberapa hari tidak terdaya kamu tanggung dan hadapinya kerana mengharapkan kerehatan selama-lamanya. Janganlah kamu memanjangkan angan-angan kerana ia akan memberatkan lagi amalan ke atas kamu. Rasakanlah maut itu benar-benar hampir dengan kamu dan katakanlah pada diri kamu “ Aku tanggung kesusahan hari ini, moga-moga aku akan mati pada malamnya. Aku bersabar pada malam ini, moga-moga aku akan mati keesokannya”

     Umur itu amanah...maka jaga dan peliharalah amanah ini, jangan biarkan Ladang tanaman dunia ini membuahkan hasil yang tidak elok ketika hendak menuainya di Ladang akhirat nanti. Siramilah ia dengan titisan air amalan dan di bajai dengan iman dan takwa yang akan terus mekar di hiasi dengan akhlaq mahmudah sebaik-baik hiasan duniawi. Umur bukanlah untuk di persia-siakan, tidak boleh di beli atau di tukar dengan wang ringgit..tetapi ia akan tiba tamat tempohnya pada bila-bila yang akan di pulangkan kepada Pemilik asalnya..Allah Rabbul ‘Izzati.



Friday, December 25, 2009

~Syurga Rumah Tangga~



Dedikasi khas buat sahabat-sahabat yang telah selamat ijab & kabul(“,)


Renungilah....

Syurga Rumah Tangga......

Syurga rumahtangga itu fitrah hati
Naluri nurani yang pinta di isi
Kerana si dara rela diperisteri
Kerananya jejaka rela menjadi suami
Masing-masing membawa harapan
Agar terbinalah rumah tangga penjana
Kebahagiaan..

Matlamat yang sana satu, tapi jalannya berliku
Destinasi sama, kaedahnya berbeza
Lalu bersimpang siurlah jalan ke sana
Pelbagai jalan menimbulkan dilemma
Mencari yang jitu mengundang keliru

Binalah rumahtangga di telapak iman
Tuluskan niat luruskanlah matlamat
Suami pemimpin arah tujuan
Isteri pembantu sepanjang jalan
Lalu mulakanlah kembara berdua
Kerna dan untuk…Allah jua

Di tapak iman dirikanlah hukum Tuhan
Iman itu tujuan, Islam itu jalan..
Tempat merujuk segala permasalahan
Tempat mencari semua penyelesaian
Rumah jadi sambungan madrasah
Berputiklah rahmah, berbuahlah ulfah

Inilah kunci kebahagiaan rumah tangga
Setia dan penyayang seorang suami
Cinta dan kasih seorang isteri
Lalu berbuahlah :
Mahmudah demi mahmudah
Yang melahirkan zuriat
Yang soleh dan solehah……


(Ustaz Pahrol Mohd Juoi...petikan: buku “Tentang Cinta”)



     Untuk entri khas kali ini, saya ingin berkongsi rasa gembira dan sekalung tahniah buat pasangan-pasangan Raja Sehari yang telah selamat melangsungkan perkahwinan sepanjang cuti sekolah ini.Alhamdulillah, saya sempat untuk menghadiri Walimah sahabat-sahabat..seribu juga kemaafan di pohon kerana tidak dapat memenuhi sebahagian lagi jemputan perkahwinan kerana masa yang ada  di penuhi untuk melaksanakan amanah yang telah di pertanggungjwabkan.
 
     Perkahwinan adalah satu sunnah yang amat dituntut dalam Islam. Melalui ikatan perkahwinan maka lengkaplah sebahagian lagi iman seseorang Muslim. Apabila sekumpulan daripada sahabat hendak memilih hidup membujang dan berterusan beribadat dengan berpuasa di siang hari dan beribadat sepanjang malam serta menjauhkan wanita,
Rasullulah s.a.w bersabda :
“ Adakah kamu yang kata begini?Sesungguhnya aku takut kepada Allah berbanding kamu dan bertakwa kpdNya lebih dari kamu, tetapi aku berpuasa, aku bangun malam (sebahagiannya) dan tidur (sebahagiannya), aku mengahwini wanita-wanita. Barangsiapa yang menjauhkan sunnahku ia sebenarnya bukan dari kalanganku..” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Islam telah menggariskan panduan dalam melayari sebuah bahtera rumah tangga..si suami sebagai nakhoda dan isteri sebagai pembantu...Allah telah memberi amanah kepada pasangan suami dan isteri untuk membina sebuah keluarga yang harmoni. Tanggungjawab ini merupakan ibadah yang mesti di laksanakan berlandaskan syari’at Islam bagi memastikan ia membawa kebahagian kepada keluarga.
   Sabda Rasullulah s.a.w yang bermaksud :
“ Antara kebahagiaan anak Adam ialah tiga dan antara kesengsaraan anak Adam juga adalah tiga. Antara kebahagiaan anak Adam ialah, wanita (isteri solehah), kediaman yang selesa dan tunggangan yang baik. Antara kesengsaraan anak Adam ialah..wanita (isteri) yang jahat, kediaman yang tidak selesa dan tunggangan yang tidak baik.”(Riwayat Ahmad).
     Oleh itu, suami dan isteri haruslah sedar akan tuntutan hak dan tanggungjawab masing-masing. Wahai suami pimpin, fahami dan sayangi isterimu.. agar dia mentaati mu dan patuh kepada agama Pemilik alam ini. Wahai Isteri..taati lah suami mu..semoga dirimu menjadi isteri yang solehah..penyejuk mata..penawar di hati.
Di dalam sebuah hadith Rasulullah bersabda kepada Umar r.a, yang bermaksud:
“Sukakah kamu aku beritahu tentang sebaik-baik aset yang di simpan oleh seseorang?.Wanita yang soleh, apabila ia melihat kepadanya (isterinya) ia menggembirakannya, apabila ia memerintahkan ia mentaatinya dan apabila ia tidak bersamanya ia akan menjaga kehormatannya”
.Hikmah ijab dan kabul bukan hanya memenuhi tuntutan nafsu semata-mata, tetapi ia lebih daripada itu. Tanggungjawab yang di amanahkan tidak boleh di ambil mudah. Terimalah kelebihan dan kekurangan pasangan seadanya..kerana kekurangan dan kelebihan itu lah yang melengkapkan antara keduanya.
 
         Pada zaman jahiliah wanita adalah hamba nafsu buas bagi lelaki, betapa hinanya wanita di pandangan lelaki. Di barat, kemunculan fahaman feminisme berkembang luas pengaruhnya apabila darjat wanita di pandang rendah dan hina. Pengajaran kisah Eve (Hawa) seperti mana yang terkandung dalam Bible (bab Genesis)...wanita di persalahkan kerana tergoda dengan hasutan syaitan kerana memakan buah larangan. Oleh itu, agama Kristian menganggap wanita adalah pembawa malang bagi lelaki. Maka, bangkit lah fahaman feminis di barat untuk memperjuangkan hak-hak persamaan gender dan isu penindasan terhadap wanita. Agama Kristian menetapkan perkahwinan adalah yang sangat suci dan terikat dengan agama (gereja)..Maka, penceraian amatlah di larang sama sekali. Pasangan yang telah berkahwin tidak boleh berpisah jika terjadi konflik rumah tangga terjadi. Permohonan penceraian amatlah rumit. Dengan itu, di barat memilih untuk berkahwin bukanlah satu pilihan oleh pasangan yang telah bersedudukan.Mereka lebih selesa untuk tidak mempunyai komitmen dalam perkahwinan.  Mereka menganggap berkahwin  adalah suatu merumitkan dan menyusahkan.
      Seharusnya kita bersyukur kerana menjadi seorang Muslim... Islam itu indah..indah untuk kita hayati dan patuhi..Islam itu syumul, setiap sudut ruang kehidupan manusia ada aturan yang lengkap dan di pandukan atas lunas-lunas kemanusian serta fitrah azali seorang insan.

Firman Allah yang bermaksud dalam surah Ar-Rum ayat : “ Dan di antara kekuasaNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadaNya, dan di jadikan dia antara rasa kasih dan sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”

    Maka perkahwinan adalah institusi asas sesebuah masyarakat. Anak-anak soleh dan solehah yang di lahirkan daripada usrah yang mawaddah dan sakinah akan membahagiakan dan menyumbang sepenuh kudrat untuk agama, masyarakat dan negara.
Teringat bait-bait  lirik nasyid.. kumpulan  In team ni..."kasihmu amanahku.."
Pernikahan menyingkap tabir rahsia
Suami isteri inginkan keluarga yang bahagia 
Dan mengharapkan sebuah bahtera indah 
Untuk bersama belayar ke muara 

Pernikahan, menginsafkan kita 
Perlunya iman dan takwa, meniti sabar dan redha 
Bila masa senang syukuri nikmat Tuhan
Susah mendatang tempuhi dengan tabah

Isteri janji telah dipateri
Diijab kabulkan dan dirahmati
Detik pertemuan dan pernikahan
Yang dihujani air mata kasih
Demi syurga Ilahi...



Semoga mahligai kasih yang di bina berkekalan hingga ke syurga..maka terbinalah Bait al Muslim yang akan sentiasa bersinar dengan cahaya sakinah dan mawaddah...insya Allah(“,)...waAllahu’alam.

Wednesday, December 23, 2009

Perkampungan Menara Gading 2009

     Pada 19hb-20hb Disember 2009, ABIM daerah Padang Terap telah menganjurkan Perkampungan Menara Gading yang pertama kali di anjurkan di daerah ini PMG ini di sertai oleh 33 org peserta daripada 3 buah sekolah, SMK Dato’ Syed Ahmad, Maktab Mahmud Padang Terap dan SMA Al Khairiah yang terdiri daripada lepasan SPM 2009. Belantara Elit yang terletak di Kampung Genting Palas ,Kuala Nerang menjadi tempat pilihan untuk PMG kali ini.

      Alhamdulillah, kemudahan yang di sediakan amat baik dan selesa. Antara objektif penganjuran program ini adalah untuk memberi pendedahan tentang menjalani realiti kehidupan sebagai seorang mahasiswa, peserta di beri kesedaran tentang pentingnya menuntut ilmu, jika gagal untuk mendapat tempat di mana-mana Institut Pengajian tinggi selepas mendapat keputusan SPM nanti tidak bermakna ini ialah penamat kepada mereka untuk mencapai cita-cita untuk menjejakkan kaki ke menara Gading.

        Selain itu juga, peserta di beri pendedahan tentang keseimbangan antara pelajaran dan aktiviti di luar kuliah, terutama penglibatan di dalam Persatuan atau jemaah. Modul yang di jalankan juga memberi penekanan tentang partisipasi mahasiswa di dalam masyarakat secara amal jama’ie. Matlamat yang jelas dan perancangan masa depan amatlah penting untuk mencapai cita-cita yang di impikan. Pendaftaran program bermula pada pukul 11pagi dan seterusnya peserta di berikan taklimat mengenai kem dan perjalanan program selama dua hari satu malam ini

     Peserta di bahagikan kepada empat kumpulan dan setiap kumpulan di kendalikan oleh seorang fasilitator. Terdapat 3 Modul LDK yang telah di tetapkan, LDK 1; Taaruf & Mind Setting, LDK 2; Realiti Kehidupan Mahasiswa, LDK 3; Adakah aku sudah bersedia?. 



Menggunakan kemudahan yang di sediakan di kem untuk aktiviti riadah di sebelah petang.

Kerjasama di dalam kumpulan amat lah penting...jalinan ukhuwah pun bertaut...=)


Selepas LDK 3 yang di adakan secara mass..aktiviti seterusnya..jagung & sosej bakar...=)



     Slot pemantapan Aqidah merupakan sesi tambahan pada hari Ahad dan dikendalikan oleh Ustaz Abdullah Din..pengisisan modul melalui kaedah perbandingan agama ini sangat menarik kerana peserta di dedahkan pengenalan tentang agama Kristian dan Islam. Majlis pentup PMG’09 oleh Ustaz Hafiz Mustafa Lubis, YDP ABIM Negeri Kedah pada jam 12 tengahari. Alhamdulillah selesai sudah program Perkampungan Menara Gading pada kali ini. Insya Allah semoga, program seperti akan di jadikan program tahunan untuk ABIM Pdg Terap pada masa akan datang. Program susulan akan di laksanakan untuk memastikan peserta berasa seronok dengan ukhuwah yg terjalin dengan ABIM Pdg Terap. Sekaligus, mereka di antara belia-belia Islam yang akan bersama-sama membantu dan menyumbang gerak kerja dakwah..misi rahmatan lil’alamin di daerah Padang Terap khususnya dam amnya di Negeri Kedah Darul Aman ini. PERSIDA-ABIM Kedah akan menganjurkan program MENARA (program susulan) peringkat negeri yang di adakan dengan kerjasama peserta-peserta daripada ABIM- Perlis..insya Allah..moga di permudahkan segala urusan dan perancangan..

       Sekalung penghargaan di berikan kepada Urusetia dan fasilitator yang terlibat, YDP ABIM Pdg Terap...Ustaz Abdullah Din, Ustaz Hafiz Mustafa Lubis yang sudi meluangkan masa menghadiri ke PMG’09 ini dan seterusnya adik-adik peserta yang menjadi insan terpilih menyertai program pada kali ini...syukran Jazilan, Semoga impian dan cita-cita menjejakkan kaki ke Menara Gading akan di kecapi..insya Allah..

Segalanya Milik Mu

Kau yang menciptakan cinta
Dan Kau jua yang menghampar bahagia
Di ribaanMu terhimpun harapan
Impian tulus setiap insan
Kau yang mengutuskan duka
Dan Engkaulah yang mengirimkan hampa
Namun padaMu jua diadukan
Merabahkan keresahan dan tangisan
Aku tahu inilah kasihMu
Aku tahu inilah cintaMu
Dan ku tahu tiap yang terbaik untukku
Tak semuanya yang ku mahu
Di celah hangat nafas yang terhela
Ada dingin saat menyeru (menyebut) namaMu
Terarah segala ronta dan rasa
Pada damainya dakapanMu
Aku tahu inilah kasihMu
Aku tahu inilah cintaMu
Dan ku tahu di segenap ruang rasaku
Telah Kau titipkan kekuantan..
Oh Tuhan

-Mestica-

Thursday, December 17, 2009

~Doa Akhir & Awal Tahun~




~Doa Akhir Tahun dibaca 3 kali pada akhir waktu Asar atau sebelum masuk waktu Maghrib pada akhir bulan Zulhijjah..~
~


~Doa Awal Tahun di baca 3 kali selepas waktu maghrib pada satu Muharram~

Friday, December 4, 2009

PKPIM anjur Seminar Sehari Pengukuhan Pandangan Alam Islam dan Syarahan Perdana Prof Dr Syed Muhammad Naquib Al-Attas


      Persatuan Kebangsaan Pelajar Islam Malaysia (PKPIM) dengan kerjasama Himpunan Keilmuan Muda (HAKIM) akan menganjurkan Seminar Sehari Pengukuhan Pandangan Alam Islam dan Syarahan Perdana Prof Dr Syed Muhammad Naquib Al-Attas pada 13 Disember 2009 iaitu pada hari Ahad bermula pukul 8.30 pagi di Institut Integriti Malaysia (IIM), Jalan Duta, Kuala Lumpur.

Antara objektif seminar ini diadakan adalah untuk menekankan keutamaan pandangan alam Islam dalam kerangka berfikir masyarakat Islam serta memantapkan kefahaman masyarakat, khasnya generasi muda, tentang Pandangan Alam Islam yang sebenar.

Dalam pada itu, PKPIM dalam membawa suatu rencah bagi memulihkan permasalahan umat telah melancarkan “Gagasan Ta’dib Kepemudaan” yang bertujuan untuk membina kembali suatu generasi Islam baru yang ideal dan menjadi suri tauladan kepada semua, yang luhur adab dan keperibadiannya, tinggi disiplin ilmunya, kukuh pegangan tauhidnya serta memiliki nilai integriti dan kepimpinan yang hebat.

Rentetan itu, penganjuran Seminar Sehari Pengukuhan Pandangan Alam Islam dan Syarahan Perdana Prof Dr Syed Muhammad Naquib Al-Attas adalah merupakan satu program induk dan menjadi perintis kepada pelaksanaan program Majlis Tarbiyah dalam memperkasa agenda kefahaman Ta’dib dan pendidikan dalam kalangan masyarakat khususnya generasi pelajar.

Sementara itu, seminar yang akan dianjurkan juga akan diisi dengan tujuh pembentangan kertas kerja oleh beberapa tokoh intelektual terkemuka dalam negara. Antara yang terlibat termasuklah Prof Wan Mohd Nor Wan Daud, Dr Mohd Farid Mohd Sharan, Dr Mohd Sani Badrun, Dr Adi Setia Mohd dom, dan sebagainya. Acara kemuncak kepada penganjuran seminar tersebut adalah Syarahan Perdana Prof Dr Syed Muhammad Naquib Al-Attas yang bertajuk “Reviving The Worldview of Islam: Internal & External Challenges” pada sebelah malam.

Maka, pihak PKPIM menyeru kepada semua pihak khususnya golongan mahasiswa untuk menghadiri seminar ini untuk menyelesaikan permasalahan utama umat memandangkan segala penyelesaian yang ingin dilakukan haruslah bermula dengan usaha memperbetulkan cara berfikir masyarakat Islam terutama yang berhubung dengan ta’dib dan pendidikan yang membentuk alam pemikiran mereka.

Bagi yang berminat, pendaftaran boleh dibuat dengan berhubung terus dengan pihak penganjur Sdr Abdul Muntaqim Zulkifli di talian 019-8285019 atau 03-61842286. Untuk makluman semua juga, yuran seminar yang ditetapkan untuk program tersebut adalah sebanyak RM100 untuk golongan professional dan RM35 untuk golongan pelajar. Namun, bagi yang mahu menghadiri Syarahan Perdana Prof Dr Syed Muhammad Naquib Al-Attas sahaja, bayaran yuran yang dikenakan adalah sebanyak RM50 untuk golongan professional dan RM20 untuk pelajar.

Related Posts with Thumbnails